Logo BAPPEDA Kabupaten Bireuen

BAPPEDA

KABUPATEN BIREUEN

BAPPEDA Bireuen bersama Tenaga Ahli USK Cari penyebab Kematian Pohon Giri Matang

16/9/2026

Pasca terjadinya banjir, Pemerintah Kabupaten Bireuen melalui Bidang Penelitian dan Pengembangan BAPPEDA Bireuen menggelar Focus Group Discussion (FGD) untuk membahas penyebab tanaman Giri Matang mengalami kematian setelah terdampak banjir. Kegiatan tersebut berlangsung di Aula Bappeda Kabupaten Bireuen, Senin (14/9/2026), dengan melibatkan berbagai unsur terkait.

Turut hadir dalam FGD di antaranya Sekretaris Daerah (Sekda) Bireuen, Asisten II, Kabid Litbang Bappeda, unsur Universitas Almuslim, Universitas Islam Kebangsaan Indonesia (UNIKI), tim peneliti Universitas Syiah Kuala (USK), penyuluh pertanian, Badan Pusat Statistik (BPS), unsur kecamatan, para keuchik serta pelaku usaha Giri Matang.

Tenaga Ahli Martunis menjelaskan dalam FGD membahas berbagai kemungkinan penyebab tanaman Giri Matang mati pascabanjir. Genangan air dalam waktu lama diduga dapat menyebabkan akar kekurangan oksigen, sehingga mengganggu pertumbuhan dan berpotensi menyebabkan pembusukan akar.

“Selain itu, banjir dapat membawa lumpur, sampah dan material lainnya yang berpotensi mengganggu kondisi tanah serta perakaran tanaman. Tingginya kelembapan setelah banjir juga dapat meningkatkan risiko serangan jamur dan bakteri,”katanya.

Selanjutnya ia mengatakan melalui FGD tersebut diharapkan diperoleh gambaran yang lebih jelas mengenai penyebab kematian Giri Matang pascabanjir, sekaligus menjadi dasar dalam menentukan langkah penanganan dan pemulihan yang tepat.

Sekretaris Daerah Kabupaten Bireuen, Ismunandar, menegaskan setiap kegiatan pemerintah, termasuk penelitian, kajian dan diskusi, harus menghasilkan output yang nyata dan dapat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat. Menurutnya, hasil kegiatan jangan hanya berhenti dalam bentuk laporan atau buku. Data dan hasil kajian perlu dikembangkan menjadi aplikasi atau media informasi yang mudah diakses masyarakat. “Dari setiap kegiatan harus ada output untuk masyarakat. Jangan hanya menjadi laporan dan buku, tetapi bagaimana hasilnya bisa menjadi aplikasi dan dapat dimanfaatkan masyarakat,” ujar Ismunandar. Ia juga mendorong agar potensi daerah, khususnya sektor pertanian dan komoditas unggulan seperti jeruk, terus dikembangkan sehingga mampu memberikan nilai tambah dan meningkatkan perekonomian masyarakat.

Menurutnya, berbagai catatan dan hasil penelitian harus menjadi bahan evaluasi untuk melakukan perbaikan serta mendorong peningkatan ekonomi masyarakat ke arah yang lebih baik. Sekda juga mengapresiasi keterlibatan perguruan tinggi, khususnya USK, dalam mendukung penelitian dan pengembangan potensi daerah.

Ia menyampaikan terima kasih kepada Rektor USK beserta seluruh jajaran atas dukungan dan kerja sama yang diberikan dalam pengembangan ilmu pengetahuan, penelitian dan inovasi yang dapat mendukung pembangunan Kabupaten Bireuen.

Sementara itu, sejumlah keuchik yang mengikuti FGD berharap penelitian mengenai Giri Matang tidak hanya terfokus pada satu lokasi. Hal tersebut dinilai penting karena setiap gampong memiliki karakteristik, kondisi lingkungan, potensi serta permasalahan yang berbeda. Para keuchik berharap penelitian dilakukan pada beberapa lokasi sehingga hasil yang diperoleh dapat memberikan gambaran yang lebih menyeluruh mengenai kondisi Giri Matang di Kabupaten Bireuen.

Selain itu, para keuchik juga menekankan pentingnya menjaga berbagai aset dan potensi Kabupaten Bireuen, termasuk tanaman serta komoditas lokal yang selama ini menjadi bagian dari kehidupan dan sumber pendapatan masyarakat. Masyarakat, kata mereka, tidak hanya bergantung pada buah Giri Matang. Masih terdapat berbagai jenis buah dan komoditas lainnya yang memiliki potensi ekonomi dan perlu mendapat perhatian dalam pengembangan maupun penelitian.

Karena itu, hasil penelitian diharapkan tidak hanya membahas persoalan Giri Matang, tetapi juga dapat mengidentifikasi berbagai potensi komoditas lainnya yang dapat dikembangkan untuk meningkatkan pendapatan masyarakat. Para keuchik berharap hasil FGD dan penelitian nantinya dapat menjadi catatan penting bagi pemerintah daerah dalam menjaga aset daerah, mengembangkan potensi gampong dan meningkatkan perekonomian masyarakat Bireuen.