Bappeda Kabupaten Bireuen dibawah koordinasi Bidang Pemerintahan dan Pembangunan Manusia melaksanakan Acara Diseminasi dan Publikasi hasil Pengukuran Pertumbuhan dan Perkembangan Tingkat Kabupaten pada tanggal 29 Desember 2020  bertempat di Aula Bappeda Kabupaten Bireuen.

Acara ini dibuka dan dipimpin langsung oleh Bapak Bupati Bireuen (Dr. H. Muzakkar A. Gani, SH, M.Si), dalam sambutannya beliau menyampaikan Pengukuran dan Publikasi stunting adalah upaya pemerintah kabupaten Bireuen untuk memperoleh data prevalensi stunting terkini pada skala layanan puskesmas, kecamatan, dan desa.  Dimana diharapkan ssHasil pengukuran tinggi badan anak bawah lima tahun serta publikasi angka stunting digunakan untuk memperkuat komitmen pemerintah daerah dan masyarakat dalam gerakan pencegahan dan penurunan stunting.

Dalam Kesempatan ini, Bapak Bupati juga berharap Tata cara pemantauan pertumbuhan dan perkembangan anak balita yang telah dilaksanakan benar-benar berpedoman pada regulasi Kementerian Kesehatan atau kebijakan lainnya yang berlaku. Sehingga hasil pengukuran dapat menggambarkan kondisi penanganan stunting di Kabupaten Bireuen.

Dalam Kesempatan pertemuan lintas sektor ini, Kepala Dinas Kesehatan juga menyampaikan Tujuan dari pengukuran dan publikasi stunting  ini adalah untuk  Mengetahui status gizi anak sesuai umur agar pemerintah daerah  dapat Memantau kemajuan tumbuh kembang anak  secara berkala. Di samping itu juga Pengukuran dan Publikasi ini diharapkan dapat  Mengembangkan program/kegiatan yang sesuai untuk peningkatan kesadaran dan partisipasi keluarga, pengasuh, dan masyarakat untuk menjaga pertumbuhan dan perkembangan anak balita yang optimal. Beliau juga berharap Pemerintah Daerah dapat hadir di tengah masyarakat untuk  Menyediakan upaya tindak lanjut terintegrasi dan konseling dalam rangka komunikasi perubahan perilaku.

Kepala Dinas Kesehatan Bireuen, dr. Irwan juga mencoba menyampaikan hasil pengukuran prevalensi stunting di tingkat desa, kecamatan dan kabupaten yang merupakan hasil secara  secara berkala yang dilaporkan secara berjenjang mulai dari posyandu ke Dinas Kesehatan kabupaten Bireuen sebagai bahan untuk  Meningkatkan efektivitas penentuan target layanan dan pengalokasian sumber daya,

Dalam kesempatan ini, dr. Irwan kembali mengingatkan bahwa prevalensi stunting di Kabupaten Bireuen masih sangat tinggi, ini terlihat dari hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2018 adalah 41 persen, hasil Survey Status Gizi Balita Indonesia (SSGBI) tahun 2019 prevalensi stunting 32,88 persen. Berdasarkan Hasil Pengukuran status gizi dari Data elektronik Pencatatan Pelaporan Gizi Berbasis Masyarakat (e-PPGBM) sampai bulan Agustus 2019 adalah 19,4 persen sedangkan data e-PPGBM sampai bulan Agustus 2020 prevalensi stunting di kabupaten Bireuen 16,7 persen.

Walaupun ada beberapa Puskesmas yang prevalensinya naik yaitu Puskesmas Samalanga, Pandrah, Plimbang, Juli, Jangka, Peusangan Selatan, dan Peusangan Siblah Krueng, hal ini disebabkan karena rata-rata puskesmas yang prevalensi stunting nya mengalami peningkatan di tahun 2020 dikarenakan penginputan e-PPGBM masih rendah di tahun 2019 sedangkan pada tahun 2020 sudah ada peningkatan penginputan aplikasi e-PPGBM.

Hampir semua faktor determinan memberikan dampak negative terhadap penurunan stunting di Kabupaten Bireuen. Dimana terlihat bahwa :

  • 99 balita yang belum mempunyai JKN/BPJS
  • 58 rumah tangga 1.000 HPK belum mempunyai sumber air bersih
  • 8 balita sedang/pernah mengalami kecacingan
  • 97 rumah tangga 1.000 HPK belum mempunyai jamban sehat
  • 374 balita belum mendapat imunisasi lengkap
  • 541 anggota rumah tangga 1.000 HPk masih merokok
  • 28 ibu balita dengan riwayat bumil KEK
  • 258 balita yang bermasalah gizi mempunyai penyakit penyerta.

Faktor determinan yang paling tinggi adalah adanya anggota rumah tangga 1.000 HPK merokok (541 rumah tangga), di ikuti dengan tingginya anak yang belum mendapatkan imunisasi lengkap (374 balita). Selain itu factor determinan tertinggi lainnya adalah masih tingginya angka balita yang bermasalah gizi yang mempunyai penyakit penyerta (258 balita).

Dari faktor determinan Balita Stunting 2020 menunjukkan bahwa kelompok sasaran yang beresiko adalah anak yang belum mempunyai JKN/BPJS,  anak dengan riwayat kecacingan,  kelompok ibu hamil masih ada yang mengalami KEK (Kurang Energi Kronik) yang ditandai dengan ukuran Lila <23,5 cm yang beresiko melahirkan anak dengan BBLR dan Stunting

Di akhir pemaparan, Kepala Dinas Kesehatan berharap Peran intervensi gizi spesifik dapat menyasar pada kelompok 1.000 HPK dengan titik point pada edukasi gizi seimbang dan PMT, mengaktifkan kelas ibu, kelas ibu balita dan kunjungan balita di posyandu.

Dalam Rapat Diseminasi dan Publikasi Hasil Pengukuran Pertumbuhan dan Perkembangan Tingkat Kabupaten ini, Kepala Bappeda Kabupaten Bireuen selaku Ketua Tim Koordinasi Konvergensi Intervensi Penurunan Stunting Terintegrasi di Kabupaten Bireuenberharap Ada nya perhatian dari pemangku kebijakan dan aparatur gampong dalam upaya mengoptimalkan anggaran melalui dana desa sebagai upaya penyediaan sarana dan prasaran. Di samping itu, peningkatan pemberdayaan masyarakat juga sangat mendukung sebagai upaya penyediaan makanan pangan local yang dapat meningkatkan status gizi ibu hamil dan balita sehingga dapat menekan angka stunting di Kabupaten Bireuen.

Dalam pemaparannya, Kepala Bappeda juga berharap Tim Koordinasi Konvergensi Intervensi Penurunan Stunting Terintegrasi di Kabupaten Bireuendapat Memecahkan masalah dan memantau proses perencanaan di tingkat desa hingga kabupaten sebagai bentuk  Advokasi kepada unit-unit terkait di pemerintah daerah untuk integrasi program.

Dalam pertemuan Rapat Diseminasi dan Publikasi Hasil Pengukuran Pertumbuhan dan Perkembangan Tingkat Kabupaten ini juga dilakukan diskusi dan berbagi pengalaman antar  OPD dan Instansi Terkait. Peserta kegiatan ini dihadiri oleh Bapak Bupati, , Ketua DPRK, Para Asisten Sekretariat Daerah, Bappeda dan OPD Penanggung Jawab Layanan, Akademisi, P3MD dan unsur lainnya

Pertemuan Rapat Diseminasi dan Publikasi Hasil Pengukuran Pertumbuhan dan Perkembangan Tingkat Kabupaten iniini selanjutnya di tutup oleh Asisten Perekonomian dan Pembangunan Daerah (Ir. Ibrahim Ahmad, M.Si), beliau menyampaikan apresiasi kepada semua OPD pemberi layanan yang telah mencoba melaksanakan tahapan-tahapan sesuai dengan apa yang telah diterapkan oleh Direktorat Jenderal Bina Pembangunan Daerah Kementerian Dalam Negeri. Namun masih banyak hal lain yang harus kita lakukan dalam rangka upaya percepatan penanggulangan penurunan stunting di Kabupaten Bireuen.